Mengulas tentang berbagai macam sejarah yang ada di dunia, Serta memberikan edukasi tentang sejarah dari berbagai macam belahan bumi guna memperkaya pengetahuan pembaca.

PERETEMPURAN DI JEMBATAN JENGKELING

 

Jembatan Jengkeling Temanggung Setelah Dirobohkan Oleh Para Pejuang

KISAH JEMBATAN 

‘’JENGKELING’’ TEMANGGUNG

Jembatan jengkeling adalah sebuah jembatan yang menghubungkan kota temanggung dengan kecamatan kandangan yang terletak di sekitar desa jengkeling kecamatan kandangan kabupaten temanggung jawa tengah, jembatan ini pernah secara sengaja diruntuhkan oleh para pejuang demi menghambat patroli tentara belanda, jembatan ini banyak menyimpan sejarah yang sampai saat ini belum terungkap, jembatan ini menjadi salah satu titik dimana para pejuang dari daerah sekitar kandangan pernah melakukan serangan yang sangat mengejutkan pihak musuh, salah satu serangan yang tercatat dalam sejarah adalah dimana ketika pejuang yang berasal dari kesatuan tentara pelajar yang bermarkas di sekitar kandangan melakukan penyerangan terhadap tentara belanda.

Dikisahkan juga dalam buku sejarah perjuangan rakyat temanggung 1945-1950, bahwa mereka yang terdiri dari remaja sekolah waktu itu berhasil memukul mundur tentara belanda, setelah Indonesia di proklamasikan tahun 1945 tidak serta merta pertempuran di berbagai daerah mereda karena pihak belanda ingin kembali menguasai Indonesia lewat agresi militer yang dilancarkannya yang membuat jutaan jiwa dari pejuang dan rakyat ikut melayang, bahkan di kabupaten temanggung masih ada pertempuran yang terjadi setelah tahun 1945, salah satu nya adalah penyerbuan patroli belanda di jembatan jengkeling, pada suatu hari di bulan maret 1950 pukul 15.00 WIB anak-anak anggota tentara pelajar (TP) mendengar berita dari mulut ke mulut bahwa tentara pasukan belanda tengah melakukan patroli, diketaui serdadu belanda tersebut di bawah pimpinan Van Deer Zee yang diperkirakan berjumlah sekitar dua regu atau 30 orang, seperti biasa dalam melaksanakan patroli mereka selalu bersenjatakan lengkap, pasukan tersebut baru saja berpatroli di sekitar kandangan dan akan kembali ke temanggung lewat maron.

Anak-anak TP segera mengkonfirmasi berita tersebut dan ternyata benar, dari arah utara terlihat pasukan belanda sedang menuju selatan dan terlihat debu-debu beterbangan dari kaki para serdadu belanda karena pada saat itu sedang musim kemarau, pasukan itu berjalan di sisi kanan dan kiri jalan pengalaman berhadapan dengan anak-anak TP membuat mereka lebih waspada, pasukan tentara pelajar (TP) yang saat itu dipimpin oleh komandan yang bernama sutarto berpangkat “KAPTEN” segera membuat siasat untuk melakukan penyerangan, sutarto pun membagi pasukan yang terdiri dari anak-anak sekolah tersebut di beberapa titik di sekitar jembatan.

Sutarto mempercayakan gunawan muhadi untuk melakukan penyergapan, secara cepat gunawan mengatur kawan-kawannya, Sebagian dari mereka ada yang mengambil posisi di bukit cerukan, sepertiga di posisi bukit jengkeling dan sepertiga lainnya di persawahan sikrasak, seperti biasa mereka bermaksud mencegat dan menghajarnya secara mendadak, namun sebelum itu untuk menghindari jatuhnya korban dari para penduduk, kapten sutarto memerintahkan anak buahnya untuk mengungsikan warga setempat, kampung jengkeling harus secepatnya kosong karena diperkirakan akan terjadi pertempuran hebat.

Meskipun pasukan belanda hanya 30 orang namun persenjataan mereka lebih canggih dan tidaklah sebanding dengan yang digunakan 47 anak-anak TP, hal ini tentu di sadari oleh sang komandan sehingga pengungsian penduduk mutlak harus di lakukan, titik pertempuran sudah di tentukan yaitu jembatan jengkeling yang terputus perhitungan ini cukup logis meski sedikit ngawur dan nekad. Diperhitungkan dari 30 orang pasukan belanda untuk mencapai seberang selatan dari utara sungai pasukan tersebut harus turun ke dasar sungai yang cukup terjal saat melakukan perjalanan ini hingga naik di tebing barat dari sungai tersebut pasti membutuhkan konsentrasi khusus, dan pada saat itulah kelengahan tentara belanda sangat di nantikan oleh anak-anak TP.

Watermantel adalah sebuah senjata andalan pasukan sutarto yang di siagakan di atas bukit Cerukan yang moncongnya diarahkan ke tebing selatan jembatan, setelah menunggu selama setengah jam lebih di lokasi ujung jembatan yacob marsono tak henti-hentinya mengusap keringat dari lengan bajunya, sedangkan sukandar masih sempat menghisap kereteknya sementara wuhyono yang berada di persawahan jari telunjuk tangan kanannya tidak pernah mau lepas dari picu senapan tua andalannya, dan gunawan muhadi matannya memandang lurus ke arah utara, dimana pasukan belanda diperkirakan akan datang.

Senjata Watermantel


Kereta api yang pernah digunakan mengangkut pasukan TP ke front pingit, tahun 1947

Dari kejauhan tampak sudah , tentara berjalan beriringan, Itulah pasukan musuh yang di tunggu-tunggu, anak-anak TP mulai berdoa dengan cara mereka masing-masing kegiatan ini merupakan seperti kewajiban manakala mereka akan berhadapan dengan musuh dalam sebuah pertempuran konvensional, menurut sutarto kehebatan teknik perang yang di sertai doa tulus akan lebih dasyat dibandingkan dengan senjata yang terampuh sekalipun, dan anak-anak TP sangat percaya hal itu, tak ada satupun yang tidak berdoa saat itu hubungan mereka dengan tuhan sangat dekat sekali.

Detak jantung anak-anak TP mulai berdenyut kencang ketika pasuka belanda datang dan mulai menuruni tebing sungai sebelah utara, dari sikap mereka dapat di ketahui bahwa mereka tidak menyangka maut tengah mengancamnya, ada dari pasukan itu yang turun ke sungai sambil terus menghisap cerutu cokelatnya, bahkan dua tiga lainnya menyempatkan diri buang air kecil di sungai yang pada saat itu airnya tengah kering, sebagian pasukan sudah menyentuh tangga di tebing selatan dan bersiap untuk naik sedangkan sebagian lainnya masih berloncatan di antara bebatuan sungai. Ketika komandan pasukan belanda tengah menginjakan kakinya di tangga, tiba-tiba dari arah tegalan jengkeling terdengar bunyi letusan pistol dan itulah isyarat bahwa serangan harus di mulai.

Hal ini membuat pasukan belanda menjadi bengong setengah mati, mengapa tiba-tiba beberapa orang diantara kawan-kawan mereka roboh didasar sungai, mereka baru sadar setelah rentetan watermantel memporakporandakan batu dan pohon-pohon pisang di sekitarnya, tidak ada kesempatan sama sekali untuk membalas serangan itu, pasukan belanda sama sekali tidak tahu siapa yang melakukan serangan tiba-tiba tersebut dan dimana posisi penembaknya, hanya ada satu cara untuk menyelamatkan diri dari neraka perang itu, yaitu lari. Komandan dari pasukan tersebut segera memerintahkan anak buahnya untuk lari dan meninggalkan sungai, mereka berpencar dan lari menghindarkan diri dari serangan anak-anak TP menuju bukit kendil, di tempat yang cukup strategis itulah pasukan belanda mulai melancarkan serangan balasan secara membabi buta.

Peluru terus berhamburan dari berbagai senjata otomatis, mereka menggasak habis setiap rerimbunan pohon tanpa memperhitungkan berapa peluru yang harus dimuntahkannya, mereka berhenti menembak baru setelah tidak tampak adanya perlawanan, ternyata pasukan TP sudah lari berpencar ke arah barat dan timur, anak-anak pelajar ini hilang begitu saja seperti di telan bumi, sedangkan dari pihak belanda di ketahui jumlah korban sebanyak tujuh orang, mayat-mayat itu semuanya bergelimpangan di dasar sungai, persis dilokasi jembatan jengkeling, oleh kawan-kawannya mayat-mayat itu dimasukan ke dalam karung goni dan kemudian di bawa ke markas belanda yang berada di kota temanggung.

Sedangkan dari pihak TP tak seorangpun terluka akibat pencegatan itu, lalu pada malam hari nya mereka kembali ke pos jengkeling untuk menyantap jagung bakar dan mensyukuri kemenangan, penduduk sekitarpun menyambut mereka dengan suka cita, peristiwa di jembatan kali progo kampung jengkeling tersebut sangat melekat di hati pelaku dan masyarakat sekitar dan mereka sangat mengingat peristiwa tersebut, suatu pertempuran yang pernah terjadi dengan senjata yang sangat tidak imbang sama sekali, dapat diselesaikan dengan waktu singkat dan gemilang karena strategi yang hampir sempurna, sejak saat itu nama TP semakin dikenal dan berkibar, peristiwa jengkeling telah memunculkan cerita baru yang sering kali lebih dahsyat dari fakta yang ada.

Kabar burung yang berkembang dimasyarakat pun menjadi aneka macam. “anak-anak TP bisa menghilang atau anak-anak TP seperti setan”, adalah ungkapan sehari-hari yang muncul di pasar dan di kampung-kampung, peristiwa jengkeling memunculkan sebutan baru bagi pak soetarto, yaitu “Setan Jengkeling”.

Dari Tempat Inilah Tentara Pelajar Pernah Mendapatkan Senjata

Daftar nama pasukan ‘’TENTARA PELAJAR” yang bermarkas di kandangan yang berhasil kami himpun :

Komandan pasukan : KAPTEN SOETARTO

Anggota :

SOETARTO

TAMAT

SOEPARNO

SOETADI OOM TED

PRAMONO

ENDRO MOEDJI

HARJONO DAMPYAK

SOEMRAT

TJIPTO DARSONO

IMAM SADONO

TJIPTARDJO

GOENAWAN

PRATIWANTO

SUROSO JANGKUNG

DOELMADJID

SOEHADI TUTUK

HAWIG SOEJONO

KOEP

SOEKANDAR

SOEMARDI

SOEPARDI

SARIYONO

SAMUDI

RAHADIJONO

MOEHJI

SOEDIARTO

MOELJONO KAYUN

TATANG SOEMARYO

SUTOPO

ANTHON SAROSO

HADHY GINTONG

WINOTO

SAMUDI

KOMAR


*Nama-nama diatas belum termasuk nama seluruh anggota

 

Sumber : Buku “Kesaksian PROGO Kisah Perjuangan Rakyat Temanggung 1945-1950”


Share:

Kyai Haji Subkhi

 


Kyai Haji Subkhi adalah seorang kyai yang sangat tersohor pada masa perang kemerdekaan, dan beliau berasal dari parakan temanggung, pada masa penjajahan belanda banyak sekali badan kelaskaran yang di bentuk oleh rakyat guna membantu TKR (sekarang TNI) dalam menumpas penjajah belanda, saat itu belum banyak pejuang yang bisa mendapatkan senjata karena memang masih snagat terbatas adapun pejuang yang sudah menggunakan senjata api yaitu prajurit dari TKR sedang para pemuda yang tergabung dalam laskar biasa nya menggunakan senjata berupa bambu runcing.

Senjata tradisional ini sangat umum digunakan senjata yang terbuat dari bambu yang diruncingkan ini bahkan sudah digunakan pada masa pendudukan jepang, bahkan pasukan peta memperlakukan senjata ini layaknya bayonet, bahkan sampai saat ini sejarah mencatat senjata ini sebagai benda yang sangat erat kaitannya dengan pejuang dan kemerdekaan Indonesia, sangat banyak dari para pejuang yang menggunakan senjata ini untuk bertempur karena memang pada waktu itu masih sangat sulit mendapatkan pasokan senjata, bahkan sebagian senjata yang dibawa oleh TKR adalah hasil rampasan perang.

Jika berbicara mengenai bambu runcing tentu sangat erat kaitannya dengan laskar dan ulama, salah satu laskar yang terkenal pada masa itu adalah laskar  Hizbullah yang di bentuk oleh ulama muslim, sebagian besar anggota dari laskar ini berasal dari para santri pondok pesantren dan  hal ini sangat berkaitan erat tentunya dengan salah seoorang ulama yang berasal dari parakan yaitu Kyai Haji Subkhi, beliau adalah salah seorang ulama dari pondok pesantren yang berada di kecamatan parakan kabupaten temanggung, pada saat itu kaum muslimin khususnya para pejuang sangat percaya dengan karomah yang dimiliki oleh Kyai Haji Subkhi mereka sangat percaya jika bambu runcing yang sudah di doakan oleh beliau dapat membuat musuh ketakutan di samping itu para pejuang yang tergabung dalam laskar maupun tentara pemerintah memiliki kekuatan di luar nalar manusia bahkan konon ada pula pejuang yang tidak mempan tertembus peluru, hal ini tentunya tidak asing bagi masyarakat jawa pada umumnya karena jika di telisik lebih dalam nenek moyang mereka berasal dari tentara-tentara kerajaan yang sangat menguasai ilmu kanuragan, namun lain halnya dengan tentara musuh yang malah terheran-heran melihat keberanian pasukan bambu runcing ini dan senjata ini juga di takuti oleh para tentara belanda karena apabila sampai tertusuk oleh bambung runcing mereka tidak langsung mati begitu saja tapi akan merasakan sakit yang sangat luar biasa terlebih dahulu.

Kyai Haji Subkhi Sedang Berjalan Di sekitar Lingkungan Tempat Tinggalnya

Pada masa itu beliau sangat terkenal seantero jawa khususnya dikalangan para pejuang, sangking terkenalnya bahkan seorang pemimpin panglima besar jenderal sudirman (saat itu masih berpangkat Kolonel) sampai datang ke parakan untuk meminta doa dari kyai haji subkhi sebelum mengikuti perang di ambarawa yang saat ini kita kenal dengan peritiwa palagan ambarawa, hampir setiap hari kediaman Kyai Haji Subkhi di penuhi dengan rombongan-rombongan pejuang, bahkan menurut saksi sejarah yang masih hidup hingga saat ini daerah parakan pada saat itu selalu ramai dengan ribuan pejuang yang hendak menuju kediaman Kyai Haji Subkhi untuk meminta agar bambu runcing yang mereka gunakan untuk berjuang di doakan oleh beliau.

Begitu pula yang terjadi di stasiun-stasiun yang hendak menuju ke arah temanggung selalu padat di penuhi oleh para penumpang yang membawa sebatang bambu dengan panjang dua meter yang ujungnya di runcingkan, dan tidak hanya soal bambu runcing namun ada pula diantara pejuang yang meminta agar tubuhnya didoakan agar kebal terhadap tusukan maupun senjata tajam lainnya serta peluru.

Pada masa itu hampir semua santri kecuali anak-anak memiliki bambu runcing yang tersimpan di rumahnya dan tentunya sudah di doakan oleh Kyai Haji Subkhi, hal ini sengaja dipersiapkan apabila musuh datang menyerang daerah sekitar mereka, tidak hanya santri bahkan hampir semua penduduk baik tua maupun muda di daerah tersebut rata-rata memiliki bambu runcing.


Tampak para pejuang memasuki kota parakan (1945)

Sejarah mencatat pemimpin yang pernah datang bersama dengan pasukan nya untuk meminta doa di kediaman Kyai Haji Subkhi diantara nya adalah “Laskar Hizbullah” yang di pimpin oleh  Zainul Arifin, “Barisan Sabilillah” yang di pimpin oleh KH Masykur, “Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia” yang di pimpin oleh Bung Tomo, “Barisan Banteng”  dibawah pimpinan Dr Muwardi, “Laskar Rakyat” di bawah pimpinan Ir Sakirman, “Laskar Pesindo” di bawah pimpinan Krissubbanu serta TKR (Tentara Keamanan Rakyat) di bawah pimpinan Kolonel Soedirman dan masih banyak lainnya.

Para napi di Surabaya membawa bambu runcing

Tentara dengan senjata bambu runcing

Kyai Haji Subkhi adalah ulama yang lahir pada 31 Desember 1858 di daerah kauman parakan beliau adalah putra dari  KH harun rasid dan sang kakek yang bernama KH abdul wahab beliau sang kakek adalah termasuk dalam salah satu pasukan diponegoro yang ikut perang jawa pada (1825-1830) melawan penjajah belanda, sang kakek KH abdul wahab merupakan putra dari tumenggung bupati suroloyo Mlangi Yogyakarta.

Peran kyai haji subkhi sebagai ulama yang sangat berjasa bagi para pejuang yang sangat terkenal pada waktu itu menjadikan beliau salah satu target mati tentara belanda, belanda yang datang ke kediaman beliau pada agresi militer belanda kedua (Desember 1948), mereka memasuki kota parakan dan mendatangi kediaman beliau, namun beliau berhasil lolos dari kejaran tentara belanda sedangkan putra beliau Kyai Abdurrahman gugur temtembak saat melakukan perlawanan terhadap tentara belanda kemudia beliau di anugerahi gelar pahlawan nasional oleh presiden soekarno.

Kyai haji subkhi lahir dengan nama kecil Muhammad benjing, setelah menikah beliau berganti nama menjadi sumowardojo, kemudian setelah naik haji beliau kembali berganti nama menjadi Subkhi dan beliau wafat pada 6 April 1959 di parakan kabupaten temanggung.

 


Pasukan Laskar Bersenjatakan Bambu Runcing


Makam Kyai Haji Subkhi


Monumen Bambu Runcing Temanggung

Share:

Sejarah stasiun temanggung

 

Stasioen temanggoeng tempo doeloe

Stasiun temanggung adalah sebuah stasiun yang terletak di tengah kota temanggung, tepatnya di kelurahan banyuurip temanggung, stasiun ini masuk ke dalam wilayah aset VI yogyakarta bangunan yang sudah berusia seabad lebih ini masih bisa kita lihat hingga saat iniyang saat ini, stasiun ini dulunya menghubungkan jalur antara secang dan parakan, kereta yang melewati jalur ini melayani penumpang dan hasil panen warga sekitar temanggung.

Stasiun ini dibangun oleh perusahaan kereta api hindia-belanda pada tahun 1907 yaitu bernama Nederlans-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), yang diresmikan pada januari 1907 dan seiring berkembangnya jaman jalur kereta api ini akhirnya ditutup pada tahun 1973, bekas bangunan dari gedung kereta api ini pernah dijadikan sebagai gedung juang 45 atau sebagai kantor para purnawirawan sebelum akhirnya dipindah digedung yang baru, dan bekas rel-nya kini sudah menjadi tempat tinggal.

Perlu diketahui bersama pembangunan jalur kereta api jalur secang parakan ini di bagi menjadi dua tahap, tahap pertama pembangunan yaitu dimulai dari secang menuju stasiun temanggung yang diresmikan pada januari 1907 dan tahap kedua pembangunan ini dimulai dari temanggung menuju parakan yang diresmikan pada juli 1907, dalam pembangunan tahap dua ini jalur kereta api yang dilalui yaitu kecamatan kedu, kecamatan bulu kemudian baru masuk di parakan.

Jika dari temanggung ke arah parakan maka kereta akan melewati stasiun kelas 3 yang ada di daerah kedu, ciri bangunan dari stasiun ini lebih kecil jika di banding dari stasiun parakan dan stasiun temanggung, namun funsinya tetap sama sebagai naik turunya penumpang atau barang.

Namun sebelum memasuki wilayah kedu kereta api akan menyeberang melewati jembata kali kuas yang berada tepat diatas kali yang keberadaannya masih bisa kita lihat dari jalan raya, jembatan ini masuk di kelurahan walitelon selatan kecamatan temanggung.


Jembatan kereta api tempo dulu yang membentang di atas kali kuas




Sebuah lokomotif sedang melintas diatas jembatan kali kuas temanggung tahun 1910



Jembatan kereta api terkini yang masih berdiri kokoh diatas kali kuas


 


stasiun kedu, temanggung tampak dari depan


Tampak dari belakang Stasiun kedu temanggung

Stasiun kedu adalah stasiun kereta api nonaktif yang terletak di daerah desa tawangsari kecamatan kedu, sama halnya dengan stasiun temanggung stasiun ini juga di bangun di tahun yang sama oleh NIS dan diambil alih oleh Djawatan kereta api republik Indonesia pasca kemerdekaan, stasiun ini ditutup pada tahun 1973 oleh perusahaan kereta api Indonesia, stasiun ini masih berdiri hingga saat ini dan sepat digunakan sebagai kantor sekretariat persatuan purnawirawan ABRI (PEPABRI), namun rel keretanya sudah sebagian menghilang hanya menyisakan bangunan dan tuas sinyal mekanik yang terdapat di belakang bangunan stasiun.

Jembatan kereta api di daerah desa campursari kecamatan bulu

Setelah melewati stasiun kedu kereta api yang menuju stasiun parakan akan melewati jembatan yang terletak di desa campursari kecamatan bulu, jembatan ini juga dibangun oleh NIS pada 1907 dan jembatan ini masih bisa kita lihat hingga sekarang karena letaknya yang unik yaitu terdapat diatas jalan raya temanggung parakan.

 

Jembatan kereta api galeh parakan

Perlu diketahui sebelum masuk ke stasiun parakan kereta api dari arah temanggung akan  melewati beberapa jembatan dan setelah melewati jembatan yang berada di bulu kemuadian akan melewati jembata yang berada tepat di atas aliran laki galeh kemcamatan parakan, atau masyarakat sekitar parakan menyebut jembatan itu dengan nama jembatan galeh, setelah itu baru masuk di stasiun parakan, begitulah alur perjalanan kereta api dari stasiun temanggung yang berada di kota menuju stasiun parakan yang berada di ujung paling barat dari jalur kereta api secang-parakan.

Sementara itu jalur kereta api dari temanggung menuju secang juga melewati halte Guntur dan jembatan kali progo kranggan sebelum masuk di stasiun kranggan, saat ini halte Guntur sudah tidak ada seperti halnya halte maron yang telah dibongkar, namun saksi bisu keberadaan kereta api di daerah kranggan temanggung masih bisa kita jumpai yaitu jembatan kereta api yang berada di kali progo krangga dan sasiun yang berda di kranggan,

Kereta api sedang melintas di atas jembatan kali progo kranggan temanggung tahun 1910

Jembatan penghubung antara stasiun temanggung dengan stasiun kranggan ini teletak di daerah kecamatan kranggan temanggung, jembatan ini terletak dekat dengan stasiun kranggan dan juga jembatan lama yang menjadi jalan raya waktu itu (sekarang sudah di bongkar), sebelum memasuki stasiun kereta akan terlebih dulu melewati jembatan ini, jika dari arah temanggung menuju kranggan, jembatan ini juga di bangun tahun 1907 oleh Nederlans-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), banyak sekali cerita yang mengisahkan tentang jembatan ini, diantara nya kecelakaan yang pernah terjadi di jembatan ini terlepas dari benar atau tidaknya di bawah jembatan kali progo ini ditemukan roda kereta api apakah roda kereta tersebut sengaja ditaruh di bawah situ atau memang roda tersebut sisa dari kecelakaan yang pernah terjadi di masa lalu, menurut info yang kami himpun sejarah tentang hal tersebut terbagi menjadi dua versi, jadi silahkan kalian galli lebih mendalam lagi tentang hal ini.

Jembatan kereta api kali progo kranggan temanggung yang masih berdiri kokoh membentang di atas kali progo


Bangunan bekas stasiun kereta api kranggan

Stasiun kranggan adalah salah satu bangunan stasiun dari jalur kereta api secang parakan, stasiun ini terletak di kecamatan kranggan dan dibangung oleh Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) pada tahun 1907 dan berhenti beroperasi pada tahun 1973, namun berbeda hal nya dengan stasiun temanggung dan parakan di stasiun kranggan ini arsitektur nya bergaya limasan seperti halnya stasiun kedu, mungkin karna stasiun kelas 3 jadi dibuat lebih kecil dan dengan ciri khas bangunan yang berbeda, bangunan ini masih terawat hingga saat ini karena beralih fungsi menjadi tempat tinggal pensiunan PJKA, stasiun ini berada diujung timur dari jalur kereta api secang-parakan di kabupaten temanggung sebelum stasiun secang.

Share:

SEJARAH BUS DI TEMANGGUNG



BUS PARAKAN WONOSOBO

Bus jurusan parakan wonosobo pada masa hindia-belanda, foto ini diambil di daerah kledung sekitar oktober 1923, bus ini adalah sebuah alat transportasi yang menghubungkan kabupaten temanggung dengan wonosobo, alat transportasi ini dipilih pemerihtah hindia belanda karna medan yang dilalui jalur penghubung temanggung wonosobo sangat terjal berupa medan pegunungan yang naik turun dan akan sangat sulit bila dibangun jalur kereta api untuk menghubungkan daerah tersebut.

Oleh sebab itu pemerintah kolonial hanya membangun stasiun sampai diparakan saja, sedangkan untuk ke wonosobo disambung dengan alat transportasi bus, mungkin ini bisa dikatakan yang pertama dalam sejarah bus di daerah tersebut karena pada masa itu masyarakat masih mengandalkan alat transportasi tradisional seperti kereta kuda dan lain sebagainya.

Layaknya kereta api yang tren saat itu, bus ini juga digunakan masyarakat untuk bepergian dan mengangkut hasil panen, kurang diketahui pasti bus ini mulai beroperasi dari tahun berapa tapi kalo kita lihat dari jenis bus yang digunakan ini adalah jenis bus yang beroperasi tahun 1920-1940an, perbedaan mendasar dari bus tahun50-an ada pada bagian depan moncong dimana posisi lampu masih terpisah dengan bodi layaknya lampu pada kereta kuda bangsawan.

Jenis bus yang digunakan adalah Chevrolet, kendaraan ini juga cukup unik, pada masa kolonial bangku penumpang oto bus terbagi menjadi dua, jok yang empuk dibagian depan sebelah sopir hanya dipergunakan untuk orang belanda dan jok yang terbuat dari rotan dibagian belakang untuk orang pribumi dan etnis china, kapasitas penumpang bus pada masa itu hanya 18-20 tempat duduk, adapun ongkos yang diterapkan hanya untuk orang pribumi dan etnis china yang ditarik ongkos, sedangkan untuk orang belanda tidak dikenakan tarif.

Pada masa itu adalah awal berkembangnya alat transportasi ini, di beberapa daerah di Indonesia yang waktu itu masih bernama hindia-belanda juga sangat pesat perkembangan alat transportasi jenis ini namun hanya melayani rute jarak dekat atau antar kota, salah satunya adalah perusahaan bus ESTO atau singkatan dari (Eerste Salatigasche Transport Onderneming) bisa di sebut juga dengan perusahaan transportasi pertama salatiga yang berasal dari salatiga, sedangkan ditemanggung sendiri pada tahun 1968 mulai bendiri perusahaan transportasi pertama yang diberi nama OBL (Oei Bie Lay) atau (Darmoyuwono) dan masih beroperasi hingga saat ini.

Sumber : Validnews.id, padahal.wordprees.com, busnesia.com

Share:

SEJARAH STASIUN DI TEMANGGUNG


 


STASIUN PARAKAN-TEMANGGUNG

Stasiun parakan temanggung adalah salah satu stasiun yang terletak di kabupaten temanggung yang dibuat oleh perusahaan kereta api belanda yang bernama Nederlandsch-Indische Spoorweeg (NIS) pada masa pemerintahan kolonial hindia belanda.

Stasiun ini masuk dalam aset wilayah VI Yogyakarta, stasiun ini mulai beropasi secara resmi pada 1 Juli 1907 dibawah perusahaan Nederlans-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), dan menjadi stasiun paling ujung barat dari jalur kereta api secang-parakan.

Dahulu alat transportasi ini dimanfaatkan warga sekitar kabupaten temanggung sebagai alat transportasi untuk bepergian dan mengangkut hasil panen, dan di stasiun ini juga dilengkapi dengan dipo kereta api, dipo lokomoif serta gudang, akan tetapi jalur kereta api ini tidak disambungkan ke stasiun wonosobo karena medan penggunungan yang terlalu sulit, sehingga jalur kea rah wonosobo pemerintah hindia belanda menyambungnya dengan alat transportasi bus.

Stasiun ini dibangun dengan gaya arsitektur Chalet-NIS dengan dinding yang terbuat dari batu bata dan atap ala Indische Empire NIS yang banyak digunakan pada bangunan stasiun era 1907, seiring dengan perkembangan alat transportasi yang begitu pesat dan banyaknya mobil pribadi serta tren angkutan umum pada mas itu, maka Stasiun ini mulai ditutup oleh PJKA (perusahaan jawatan kereta api) secara resmi pada 1 Maret 1973.

Jalur kereta api yang dilewati menuju stasiun ini masih bisa kita lihat hingga kini, salah satunya adalah jalur yang terletak di desa campursari, kecamatan bulu, jalur yang membentuk jembatan itu berada tepat diatas jalan raya temanggung-parakan.

Share:

BTemplates.com

Cari Judul Blog Disini

Diberdayakan oleh Blogger.
  • ()